Penulisan yang Benar Tanggung Jawab atau Tanggungjawab

Dalam kegiatan menulis, baik untuk keperluan akademik, jurnalistik, administrasi, maupun konten digital, ketepatan penggunaan bahasa menjadi hal yang sangat penting. Salah satu persoalan kebahasaan yang sering menimbulkan kebingungan adalah penulisan frasa tanggung jawab atau tanggungjawab. Keduanya kerap tampak sama dan sering kita gunakan secara bergantian, padahal menurut kaidah bahasa Indonesia baku, hanya satu bentuk yang benar.

Melalui artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif mengenai penulisan yang tepat antara tanggung jawab dan tanggungjawab, dengan penjelasan linguistik, rujukan kaidah resmi, contoh penggunaan dalam kalimat, serta implikasinya dalam dunia profesional dan akademik. Dengan pemahaman yang tepat, kita dapat meningkatkan kualitas tulisan sekaligus menjaga konsistensi bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Pentingnya Ketepatan Penulisan dalam Bahasa Indonesia

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan cara berpikir, profesionalisme, dan kredibilitas penulis. Kesalahan dalam penulisan kata atau frasa dapat menimbulkan kesalahpahaman, menurunkan kualitas tulisan, bahkan berdampak pada penilaian pembaca terhadap kompetensi penulis.

Dalam konteks ini, perbedaan antara tanggung jawab dan tanggungjawab menjadi contoh nyata bagaimana kesalahan kecil dapat berdampak besar. Terlebih lagi, frasa ini sangat sering kita gunakan dalam dokumen resmi, kontrak kerja, laporan akademik, hingga artikel opini.

Pengertian Tanggung Jawab Secara Konseptual

Sebelum membahas aspek penulisan, kita perlu memahami makna dari frasa tanggung jawab. Secara konseptual, tanggung jawab merujuk pada kewajiban seseorang atau pihak tertentu untuk menanggung akibat dari suatu tindakan, keputusan, atau peran yang diembannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, tanggung jawab berkaitan dengan nilai moral, etika, dan sosial. Di dunia profesional, tanggung jawab sering berkaitan dengan jabatan, tugas, dan kewenangan. Sementara dalam konteks hukum, tanggung jawab memiliki implikasi yang lebih formal dan mengikat.

Penulisan yang Benar Menurut Kaidah Bahasa

Tanggung Jawab sebagai Kata Majemuk

Menurut kaidah bahasa Indonesia yang diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), tanggung jawab merupakan kata majemuk yang ditulis terpisah. Kata ini tersusun atas dua unsur, yaitu tanggung dan jawab, yang masing-masing memiliki makna sendiri, tetapi membentuk satu makna baru ketika kita gabungkan.

Dalam bahasa Indonesia, tidak semua kata majemuk kita tulis serangkai. Kata majemuk yang belum mengalami pemadatan makna dan belum menjadi satu kesatuan leksikal tetap ditulis terpisah, termasuk frasa tanggung jawab.

Bentuk Tanggungjawab dan Statusnya

Bentuk tanggungjawab yang ditulis serangkai masih sering ditemukan dalam berbagai tulisan, terutama di media daring dan dokumen nonformal. Namun, berdasarkan rujukan kamus dan pedoman resmi, bentuk ini tidak baku dan tidak dianjurkan untuk digunakan dalam penulisan formal.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) secara tegas mencantumkan entri tanggung jawab sebagai bentuk yang benar, sedangkan tanggungjawab tidak tercatat sebagai entri baku.

Alasan Kesalahan Penulisan Masih Sering Terjadi

Meskipun aturan sudah jelas, kesalahan penulisan antara tanggung jawab dan tanggungjawab masih sering terjadi. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, antara lain:

  • Pengaruh kebiasaan menulis yang kurang memperhatikan kaidah bahasa.
  • Asumsi bahwa kata yang sering digunakan boleh ditulis serangkai.
  • Kurangnya pemahaman tentang konsep kata majemuk.
  • Contoh penulisan yang salah dan terus direplikasi.

Jika kesalahan ini tidak kita koreksi, maka akan semakin mengaburkan batas antara bahasa baku dan tidak baku.

Contoh Penggunaan yang Benar dalam Kalimat

Kalimat Baku

  • Setiap pegawai memiliki tanggung jawab terhadap tugas yang ada.
  • Pendidikan karakter mengajarkan nilai kejujuran dan tanggung jawab sejak dini.
  • Pimpinan harus siap memikul tanggung jawab atas keputusan yang ia ambil.

Kalimat Tidak Baku

  • Ia belum memahami tanggungjawabnya sebagai pemimpin.
  • Tanggungjawab moral tidak bisa kita abaikan.

Kalimat-kalimat di atas menjadi tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia karena penulisan kata majemuk yang tidak tepat.

Bentuk Turunan dari Tanggung Jawab

Menarik untuk dicermati bahwa bentuk turunan dari tanggung jawab dapat mengalami perubahan penulisan. Misalnya, ketika mendapat imbuhan, penulisannya bisa menjadi satu kesatuan.

Contoh Bentuk Turunan

  • Bertanggung jawab
  • Pertanggungjawaban
  • Mempertanggungjawabkan

Pada contoh di atas, kata tanggung jawab mengalami proses morfologis berupa penambahan imbuhan, sehingga penulisannya menjadi serangkai. Hal inilah yang sering menimbulkan kebingungan, karena bentuk dasarnya tetap ditulis terpisah.

Implikasi Penulisan dalam Dunia Akademik dan Profesional

Dalam dunia akademik, kesalahan penulisan dapat memengaruhi penilaian terhadap kualitas karya ilmiah. Dosen, peneliti, dan akademisi kita tuntut untuk menggunakan bahasa Indonesia baku sebagai bentuk tanggung jawab ilmiah.

Di dunia profesional, terutama dalam bidang hukum, administrasi, dan komunikasi publik, kesalahan bahasa bisa menurunkan kredibilitas institusi. Dokumen resmi yang mengandung kesalahan ejaan sering menjadi tulisan kurang profesional dan tidak teliti.

Peran Kita dalam Menjaga Bahasa Indonesia yang Baku

Bahasa Indonesia adalah identitas nasional yang harus kita jaga bersama. Salah satu cara sederhana tetapi berdampak besar adalah dengan membiasakan diri menulis sesuai kaidah yang benar.

Dengan menggunakan bentuk tanggung jawab secara konsisten dan tepat, kita ikut berkontribusi dalam pelestarian bahasa Indonesia yang baik dan benar, sekaligus menjadi contoh bagi penulis lain.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah tanggung jawab, ditulis terpisah. Bentuk tanggungjawab tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan sebaiknya kita hindari, terutama dalam tulisan formal.

Memahami perbedaan ini bukan sekadar soal teknis bahasa, melainkan juga bagian dari sikap profesional dan tanggung jawab kita sebagai pengguna bahasa Indonesia. Dengan ketelitian dan konsistensi, kualitas tulisan kita akan meningkat dan pesan yang kita sampaikan menjadi lebih jelas serta terpercaya.

Tinggalkan komentar