Penulisan yang Benar Terima Kasih atau Terimakasih

Dalam kehidupan sehari-hari, kita hampir tidak pernah lepas dari ungkapan rasa syukur dan penghargaan kepada orang lain. Salah satu bentuk paling sederhana sekaligus paling sering digunakan adalah frasa terima kasih. Namun, di tengah kebiasaan menulis cepat, terutama di era digital, muncul pertanyaan yang cukup sering diperdebatkan: manakah penulisan yang benar, terima kasih atau terimakasih?

Pertanyaan ini tampak sepele, tetapi sebenarnya memiliki dampak besar terhadap ketepatan berbahasa, profesionalitas tulisan, serta kredibilitas penulis. Oleh karena itu, melalui artikel ini, kita akan membahas secara mendalam penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia, alasan kebahasaan di baliknya, serta penerapannya dalam berbagai konteks.

Pengertian dan Fungsi Ungkapan Terima Kasih

Sebelum membahas soal penulisan, penting bagi kita untuk memahami makna dan fungsi ungkapan terima kasih. Ungkapan ini digunakan untuk menyatakan rasa syukur, penghargaan, atau apresiasi atas bantuan, perhatian, atau kebaikan yang diberikan oleh pihak lain.

Dalam komunikasi lisan maupun tulisan, terima kasih berperan sebagai bentuk etika sosial. Penggunaan ungkapan ini menunjukkan sikap sopan, menghargai orang lain, serta mencerminkan kepribadian penutur atau penulis.

Asal Usul Kata Terima Kasih

Secara kebahasaan, frasa terima kasih terdiri dari dua kata yang memiliki makna tersendiri:

  • Terima, yang berarti menerima atau menyambut sesuatu.
  • Kasih, yang bermakna cinta, kebaikan, atau pemberian.

Jika digabungkan, terima kasih dapat dimaknai sebagai ungkapan menerima kebaikan atau pemberian dengan penuh penghargaan. Karena masing-masing kata memiliki makna sendiri, gabungan ini tergolong sebagai frasa, bukan kata tunggal.

Penulisan yang Benar Menurut KBBI

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan yang benar dan baku adalah terima kasih, yang tertulis terpisah.

Dalam KBBI, frasa ini tercatat sebagai ungkapan untuk menyatakan rasa syukur atau penghargaan. Sementara itu, bentuk terimakasih tidak tercantum sebagai entri baku.

Dengan demikian, dari sudut pandang kaidah bahasa Indonesia yang resmi, penulisan terima kasih adalah satu-satunya bentuk yang benar.

Mengapa Terimakasih Dianggap Tidak Baku?

Kesalahan penulisan terimakasih sering terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya adalah kebiasaan pengucapan lisan yang terdengar menyatu, sehingga ketika dituliskan, dua kata tersebut dianggap sebagai satu kesatuan.

Selain itu, pengaruh komunikasi informal di media sosial, pesan instan, dan kolom komentar juga memperkuat penggunaan bentuk tidak baku. Dalam konteks santai, ketepatan ejaan sering kali kita abaikan demi kecepatan dan kepraktisan.

Namun, perlu kita pahami bahwa bahasa tulis memiliki aturan yang berbeda dengan bahasa lisan. Dalam penulisan formal dan semi formal, kepatuhan terhadap kaidah ejaan tetap menjadi hal yang penting.

Perbedaan Penggunaan dalam Konteks Formal dan Informal

Konteks Formal

Dalam konteks formal, seperti surat resmi, karya ilmiah, artikel jurnal, laporan, dokumen instansi, serta konten edukatif, kita wajib menggunakan bentuk baku terima kasih.

Penggunaan ejaan yang tepat mencerminkan profesionalitas, ketelitian, dan penghormatan terhadap pembaca. Kesalahan sederhana seperti penulisan terimakasih dapat menurunkan kualitas dan kredibilitas sebuah tulisan.

Konteks Informal

Pada komunikasi informal, seperti percakapan santai di media sosial atau pesan pribadi, sebagian orang masih menggunakan bentuk terimakasih. Meskipun secara kaidah tidak benar, bentuk ini sering kita toleransi dalam situasi nonresmi.

Namun demikian, membiasakan diri menulis dengan benar tetap perlu agar kita tidak terbawa kebiasaan salah ke dalam konteks formal.

Dampak Kesalahan Penulisan Terhadap Kualitas Tulisan

Kesalahan penulisan, termasuk dalam hal terima kasih, bukan hanya soal ejaan, tetapi juga soal citra penulis. Tulisan yang rapi, sesuai kaidah, dan konsisten akan lebih mudah dipercaya dan dihargai.

Bagi penulis konten, blogger, jurnalis, akademisi, maupun pelaku bisnis digital, ketepatan bahasa berperan penting dalam membangun reputasi. Kesalahan kecil yang berulang dapat memberi kesan kurang profesional atau kurang memahami dasar bahasa Indonesia.

Terima Kasih sebagai Bagian dari Etika Berbahasa

Selain aspek kebahasaan, terima kasih juga berkaitan erat dengan etika berbahasa. Ungkapan ini mencerminkan sikap rendah hati, penghargaan, dan kesadaran sosial.

Dalam dunia pendidikan, membiasakan peserta didik menggunakan ungkapan terima kasih dengan benar dapat membantu membentuk karakter positif sekaligus meningkatkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

Tips Membiasakan Penulisan Terima Kasih yang Benar

Agar kita tidak lagi keliru dalam penulisan, berikut beberapa tips sederhana yang dapat kita terapkan:

  • Biasakan merujuk pada KBBI saat ragu dengan ejaan suatu kata.
  • Latih kesadaran bahwa terima dan kasih adalah dua kata berbeda.
  • Gunakan penulisan baku dalam semua karya tulis, meskipun bersifat semi formal.
  • Lakukan penyuntingan ulang sebelum memublikasikan tulisan.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah terima kasih, yang tulisannya terpisah. Bentuk terimakasih tidak diakui sebagai bentuk baku dan sebaiknya dihindari, terutama dalam penulisan formal.

Dengan menggunakan bahasa yang tepat dan sesuai aturan, kita tidak hanya menjaga kualitas tulisan, tetapi juga turut melestarikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Membiasakan diri menulis terima kasih secara tepat adalah langkah kecil dengan dampak besar bagi profesionalitas dan etika berbahasa kita.

Tinggalkan komentar