Dalam praktik berbahasa Indonesia, kita sering menjumpai perbedaan penulisan kata yang tampak sepele, tetapi sebenarnya memiliki dampak besar terhadap ketepatan dan kredibilitas tulisan. Salah satu contoh yang kerap menimbulkan kebingungan adalah penggunaan kata standar atau standart. Keduanya terdengar sama ketika diucapkan, namun hanya satu yang diakui sebagai bentuk baku menurut kaidah bahasa Indonesia.
Kesalahan penulisan seperti ini tidak hanya terjadi di kalangan pelajar, tetapi juga dalam dokumen resmi, artikel ilmiah, media daring, hingga konten pemasaran. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami penulisan yang benar, latar belakang kesalahan yang sering muncul, serta bagaimana cara menerapkannya secara konsisten dalam berbagai konteks.
Pengertian Kata Standar
Kata standar dalam bahasa Indonesia memiliki arti patokan, ukuran, atau acuan yang digunakan sebagai pembanding. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), standar diartikan sebagai ukuran tertentu yang dipakai sebagai pedoman atau tolok ukur.
Contoh penggunaan kata standar antara lain:
- Perusahaan tersebut menerapkan standar kualitas internasional.
- Nilai minimal kelulusan sudah ditetapkan sebagai standar nasional.
- Kita perlu menyusun prosedur kerja sesuai standar operasional.
Dari contoh di atas, terlihat bahwa kata standar selalu merujuk pada sesuatu yang dijadikan acuan atau patokan.
Apakah Kata Standart Baku dalam Bahasa Indonesia?
Jawaban singkatnya adalah tidak. Kata standart bukan merupakan bentuk baku dalam bahasa Indonesia. Penulisan dengan huruf t di akhir kata ini sering muncul karena pengaruh bahasa asing, khususnya bahasa Inggris dan bahasa Belanda.
Dalam bahasa Inggris, kita mengenal kata standard, sedangkan dalam bahasa Belanda terdapat kata standaard. Pengaruh pelafalan dan kebiasaan menulis inilah yang kemudian membuat sebagian orang menuliskan kata tersebut sebagai standart. Namun, dalam proses penyerapan ke dalam bahasa Indonesia, bentuk yang dibakukan adalah standar, tanpa huruf t di akhir.
Dasar Kebakuan Kata Standar
Bahasa Indonesia memiliki aturan baku yang ditetapkan melalui kamus resmi dan pedoman ejaan. Dalam KBBI, hanya kata standar yang tercantum sebagai entri resmi. Artinya, segala bentuk turunan dan penggunaannya dalam konteks formal harus merujuk pada penulisan tersebut.
Beberapa turunan kata standar yang juga baku antara lain:
- Menstandarkan
- Penstandaran
- Standarisasi
Perlu diperhatikan bahwa meskipun kata standarisasi sering diperdebatkan, bentuk ini sudah diterima dan tercantum dalam KBBI sebagai kata baku.
Alasan Kesalahan Penulisan Standar atau Standart Sering Terjadi
Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesalahan penulisan kata standar menjadi standart. Memahami faktor-faktor ini dapat membantu kita lebih waspada dalam menulis.
1. Pengaruh Bahasa Asing
Seperti telah disinggung sebelumnya, bahasa Inggris dan Belanda sangat memengaruhi kosakata bahasa Indonesia. Karena kata standard dalam bahasa Inggris diakhiri dengan huruf d, sebagian penulis merasa perlu menambahkan huruf konsonan di akhir kata dalam bahasa Indonesia.
2. Kebiasaan Lisan
Dalam pengucapan sehari-hari, kata standar sering terdengar seperti standart, terutama ketika diucapkan dengan cepat. Kebiasaan lisan ini kemudian terbawa ke dalam bentuk tulisan.
3. Kurangnya Rujukan Kamus
Banyak orang menulis berdasarkan kebiasaan atau meniru tulisan yang sudah ada tanpa mengecek kebenarannya di kamus resmi. Padahal, kesalahan yang berulang tidak otomatis menjadi benar.
Contoh Penggunaan yang Benar dan Salah
Untuk memperjelas perbedaan antara bentuk baku dan tidak baku, berikut beberapa contoh kalimat:
Contoh yang Benar
- Produk ini telah memenuhi standar keamanan pangan.
- Kita harus bekerja sesuai standar operasional prosedur.
- Pendidikan nasional membutuhkan standar mutu yang jelas.
Contoh yang Salah
- Produk ini telah memenuhi standart keamanan pangan.
- Perusahaan menerapkan standart internasional.
Dalam konteks formal dan akademik, penggunaan kata standart sebaiknya dihindari karena dianggap tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Pentingnya Menggunakan Kata Baku dalam Tulisan
Menggunakan kata baku seperti standar bukan sekadar soal benar atau salah, tetapi juga berkaitan dengan kualitas dan profesionalitas tulisan. Tulisan yang konsisten dengan kaidah bahasa menunjukkan bahwa penulis memiliki kompetensi dan perhatian terhadap detail.
Dalam dunia akademik, penggunaan kata tidak baku dapat mengurangi nilai karya tulis. Sementara itu, dalam dunia profesional dan bisnis, kesalahan bahasa bisa memengaruhi citra perusahaan atau lembaga.
Standar dalam Berbagai Bidang Kehidupan
Kata standar kita gunakan di hampir semua bidang kehidupan. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kata tersebut dan betapa penting pula menuliskannya dengan benar.
Standar dalam Pendidikan
Dalam dunia pendidikan, kita mengenal istilah standar kompetensi, standar kelulusan, dan standar nasional pendidikan. Semua istilah ini menggunakan kata standar sebagai bentuk baku.
Standar dalam Industri
Industri manufaktur, makanan, dan jasa sangat bergantung pada standar kualitas. Tanpa standar yang jelas, kualitas produk akan sulit kita jaga.
Standar dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata standar untuk menilai sesuatu, misalnya standar hidup atau standar kebersihan. Penggunaan ini menunjukkan bahwa kata standar telah menjadi bagian penting dari kosakata umum.
Tips Agar Tidak Salah Menulis Standar
Agar kita tidak lagi keliru menulis standar atau standart, berikut beberapa tips yang dapat kita terapkan:
- Biasakan mengecek KBBI sebelum menulis kata yang meragukan.
- Ingat bahwa bentuk baku tidak selalu sama dengan bentuk bahasa asing.
- Perbanyak membaca tulisan berkualitas yang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
- Lakukan penyuntingan ulang sebelum memublikasikan tulisan.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita tegaskan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah standar, bukan standart. Bentuk standar telah menjadi bentuk baku dan tercantum dalam KBBI, sedangkan standart merupakan bentuk tidak baku yang muncul akibat pengaruh bahasa asing dan kebiasaan lisan.
Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat lebih cermat dalam menulis dan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Ketepatan berbahasa bukan hanya mencerminkan kemampuan linguistik, tetapi juga menunjukkan sikap profesional dan tanggung jawab kita sebagai pengguna bahasa.