Dalam praktik berbahasa Indonesia, kita sering menjumpai dua bentuk penulisan yang tampak mirip tetapi kerap menimbulkan kebingungan, yaitu metode dan metoda. Kedua kata ini sering dipakai secara bergantian, baik dalam karya ilmiah, laporan penelitian, artikel pendidikan, hingga tulisan populer di media daring. Pertanyaannya, manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia baku? Apakah keduanya sama-sama benar, atau hanya salah satunya yang diakui?
Melalui artikel ini, kita akan membahas secara komprehensif mengenai penulisan “metode atau metoda” dengan pendekatan profesional dan edukatif. Pembahasan tidak hanya berfokus pada mana yang benar, tetapi juga meliputi latar belakang kebahasaan, pandangan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penggunaan dalam konteks akademik, serta implikasinya terhadap kualitas tulisan. Dengan demikian, kita dapat memahami persoalan ini secara utuh dan menerapkannya secara tepat dalam aktivitas menulis sehari-hari.
Asal Usul Kata Metode dan Metoda
Akar Kata dari Bahasa Asing
Kata metode berasal dari bahasa Yunani methodos, yang berarti “cara” atau “jalan yang kita tempuh untuk mencapai tujuan tertentu”. Dalam perkembangannya, istilah ini masuk ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Latin dan bahasa Inggris (method), sebelum akhirnya masuk ke dalam bahasa Indonesia.
Dalam proses penyerapan kata asing ke dalam bahasa Indonesia, sering terjadi penyesuaian ejaan agar sesuai dengan sistem fonologi dan morfologi bahasa Indonesia. Dari sinilah muncul variasi bentuk kata, termasuk perbedaan akhiran huruf vokal seperti -e dan -a.
Pengaruh Pola Penyerapan Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki pola tertentu dalam menyerap istilah asing. Pada masa lalu, terutama sebelum ejaan bahasa Indonesia menggunakan standardisasi secara ketat, kita dapat menemukan beberapa bentuk serapan yang berbeda untuk satu istilah yang sama. Hal ini menjelaskan mengapa kata “metoda” sempat muncul dalam sejumlah buku lama atau tulisan akademik generasi sebelumnya.
Namun, seiring dengan perkembangan bahasa dan pembaruan kaidah kebahasaan, pemerintah dan lembaga bahasa melakukan penyeragaman bentuk kata agar lebih konsisten dan mudah untuk masyarakat luas.
Penulisan Menurut KBBI
Metode sebagai Bentuk Baku
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai rujukan utama bahasa Indonesia baku, bentuk yang resmi adalah metode. Kata ini memiliki arti sebagai “cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan”.
Dengan demikian, metode merupakan bentuk baku yang seharusnya ada dalam penulisan resmi, ilmiah, dan formal, termasuk skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, jurnal akademik, serta dokumen institusional.
Status Kata Metoda
Sementara itu, kata metoda tidak lagi direkomendasikan sebagai bentuk baku dalam bahasa Indonesia modern. Dalam konteks kebahasaan saat ini, “metoda” dianggap sebagai bentuk tidak baku atau bentuk lama yang sudah ditinggalkan dalam standar penulisan.
Walaupun kita masih dapat menjumpainya dalam beberapa teks lama atau tulisan yang belum diperbarui, penggunaan “metoda” dalam karya tulis masa kini sebaiknya dihindari agar tidak menimbulkan kesan kurang cermat dalam berbahasa.
Penggunaan Metode dalam Konteks Akademik
Metode sebagai Konsep Ilmiah
Dalam dunia akademik, istilah metode memiliki peran yang sangat penting. Metode merujuk pada prosedur sistematis yang berguna untuk mengumpulkan data, menganalisis informasi, dan menarik kesimpulan. Oleh karena itu, ketepatan penulisan istilah ini menjadi bagian dari ketepatan berpikir ilmiah.
Ketika kita menulis bab “Metode Penelitian”, misalnya, penggunaan kata “metode” bukan sekadar mengikuti aturan ejaan, tetapi juga mencerminkan pemahaman kita terhadap standar akademik yang berlaku.
Dampak Kesalahan Penulisan dalam Karya Ilmiah
Kesalahan penulisan istilah dasar seperti “metode” dapat memengaruhi persepsi pembaca terhadap kualitas sebuah karya tulis. Dalam konteks akademik, kesalahan semacam ini dapat kita anggap sebagai kurangnya ketelitian atau pemahaman terhadap kaidah bahasa Indonesia.
Oleh sebab itu, konsistensi penggunaan bentuk baku menjadi salah satu indikator profesionalisme penulis, terutama dalam lingkungan pendidikan dan penelitian.
Metode dalam Kehidupan Sehari-hari
Penggunaan di Luar Ranah Akademik
Selain dalam dunia akademik, kata metode juga sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dalam konteks pembelajaran, bisnis, manajemen, hingga pengembangan diri. Kita sering mendengar istilah seperti “metode belajar”, “metode pemasaran”, atau “metode pelatihan”.
Dalam konteks ini pun, penggunaan bentuk baku tetap penting, terutama ketika kita menulis artikel, panduan, atau konten edukatif yang cocok untuk publik luas.
Konsistensi Bahasa dalam Media Digital
Di era digital, tulisan kita dapat dengan mudah diakses dan dibaca oleh banyak orang. Kesalahan penulisan kata baku dapat tersebar luas dan berpotensi ditiru oleh pembaca lain. Oleh karena itu, penggunaan kata “metode” secara konsisten turut berkontribusi pada upaya menjaga kualitas bahasa Indonesia di ruang publik.
Mengapa Bentuk Baku Penting?
Bahasa sebagai Alat Komunikasi Ilmiah
Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana berpikir dan menyampaikan gagasan secara sistematis. Dalam konteks ini, bentuk baku berfungsi sebagai kesepakatan bersama agar pesan dapat kita pahami dengan tepat tanpa menimbulkan ambiguitas.
Ketika kita menggunakan bentuk baku seperti “metode”, kita turut menjaga kejelasan dan ketertiban dalam komunikasi tertulis.
Meningkatkan Kredibilitas Penulis
Penggunaan bahasa yang sesuai kaidah menunjukkan bahwa penulis memiliki kompetensi dan kepedulian terhadap kualitas tulisannya. Hal ini sangat penting, terutama bagi penulis artikel edukatif, akademisi, blogger profesional, dan praktisi di berbagai bidang.
Dengan memilih kata yang benar, kita tidak hanya mematuhi aturan bahasa, tetapi juga membangun kepercayaan pembaca terhadap isi tulisan yang kita sajikan.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku dalam bahasa Indonesia adalah metode, bukan metoda. Bentuk “metode” telah distandardisasi dan diakui dalam KBBI, serta digunakan secara luas dalam konteks akademik dan profesional.
Sementara itu, “metoda” merupakan bentuk lama yang kini tidak lagi dianjurkan untuk digunakan dalam penulisan resmi. Oleh karena itu, demi menjaga kualitas bahasa dan kredibilitas tulisan, kita sebaiknya selalu menggunakan kata “metode” dalam setiap konteks penulisan formal maupun semi-formal.
Dengan pemahaman yang tepat mengenai penulisan “metode atau metoda”, kita tidak hanya menjadi penulis yang lebih cermat, tetapi juga turut berkontribusi dalam pelestarian dan pengembangan bahasa Indonesia yang baik dan benar.