Dalam kegiatan administrasi, bisnis, maupun transaksi sehari-hari, kita sering menjumpai istilah kwitansi dan kuitansi. Keduanya merujuk pada bukti tertulis atas penerimaan uang. Namun, tidak sedikit orang yang masih ragu: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia? Apakah kwitansi atau kuitansi? Artikel ini akan membahas secara lengkap, profesional, dan edukatif mengenai perbedaan, dasar kebahasaan, fungsi, serta penerapan istilah yang benar agar kita tidak keliru dalam penulisan formal maupun nonformal.
Pengertian Kwitansi atau Kuitansi
Sebelum membahas penulisan yang benar, kita perlu memahami makna dari istilah ini. Secara umum, kwitansi atau kuitansi adalah dokumen tertulis yang berfungsi sebagai bukti pembayaran atau penerimaan uang. Dokumen ini biasanya memuat informasi penting seperti nama pihak yang menerima uang, jumlah uang yang diterima, tujuan pembayaran, tanggal, serta tanda tangan penerima.
Dalam praktiknya, kwitansi atau kuitansi digunakan dalam berbagai konteks, mulai dari transaksi jual beli sederhana, pembayaran jasa, hingga urusan administrasi yang bersifat resmi seperti pelaporan keuangan, audit, dan perpajakan.
Asal-Usul Kata Kwitansi dan Kuitansi
Pengaruh Bahasa Asing
Kata ini berasal dari bahasa Belanda kwitantie, yang berarti tanda terima atau bukti pembayaran. Bahasa Indonesia menyerap banyak kosakata dari bahasa Belanda, terutama pada masa kolonial, termasuk istilah yang berkaitan dengan administrasi dan keuangan.
Dalam proses penyerapan tersebut, terjadi penyesuaian ejaan agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Di sinilah muncul dua bentuk yang sering digunakan: kwitansi dan kuitansi.
Perubahan Ejaan dalam Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia telah mengalami beberapa kali pembaruan ejaan, mulai dari Ejaan van Ophuijsen, Ejaan Republik, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), hingga Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) yang berlaku saat ini.
Salah satu prinsip penting dalam penyesuaian ejaan adalah penyederhanaan huruf. Huruf “kw” dalam bahasa asing sering kali disesuaikan menjadi “ku” dalam bahasa Indonesia. Prinsip inilah yang menjadi dasar perbedaan antara kwitansi dan kuitansi.
Penulisan yang Benar Menurut Kaidah Bahasa Indonesia
Kuitansi sebagai Bentuk Baku
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan PUEBI, penulisan yang benar dan baku adalah “kuitansi”. Kata ini telah disesuaikan sepenuhnya dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia.
Dalam KBBI, kuitansi memiliki arti sebagai surat tanda penerimaan uang. Artinya, jika kita menulis dokumen resmi, karya ilmiah, surat menyurat, atau konten edukatif, penggunaan kata kuitansi adalah pilihan yang tepat dan benar sesuai kbbi.
Kwitansi sebagai Bentuk Tidak Baku
Sementara itu, kwitansi tergolong sebagai bentuk tidak baku. Walaupun masih sangat sering muncul di masyarakat, terutama dalam praktik sehari-hari dan dokumen informal, kata ini tidak sesuai dengan standar ejaan bahasa Indonesia saat ini.
Penggunaan kwitansi biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan lama atau contoh-contoh formulir lawas yang belum diperbarui ejaannya.
Alasan Kuitansi Lebih Dianjurkan Digunakan
Kesesuaian dengan Standar Bahasa
Alasan utama penggunaan kuitansi adalah karena kata ini telah tercatat secara resmi dalam KBBI. Dengan menggunakan istilah baku, kita menunjukkan kepatuhan terhadap kaidah bahasa yang berlaku.
Profesionalisme dalam Dokumen Resmi
Dalam dunia kerja, administrasi, dan bisnis, penggunaan bahasa yang benar mencerminkan profesionalisme. Menulis kuitansi alih-alih kwitansi dapat meningkatkan kredibilitas dokumen yang kita buat.
Konsistensi dalam Penulisan
Penggunaan istilah baku membantu menciptakan konsistensi, terutama dalam dokumen yang bersifat resmi atau proses pembuatannya secara massal. Konsistensi ini penting agar tidak menimbulkan keraguan atau kesan kurang rapi.
Fungsi dan Peran Kuitansi dalam Kehidupan Sehari-hari
Sebagai Bukti Pembayaran
Fungsi utama kuitansi adalah sebagai bukti sah bahwa suatu pembayaran telah dilakukan. Dokumen ini dapat kita gunakan jika terjadi perselisihan atau kesalahpahaman di kemudian hari.
Dokumen Pendukung Administrasi
Dalam dunia usaha dan instansi, kuitansi menjadi bagian penting dari sistem pencatatan keuangan. Tanpa kuitansi, pencatatan transaksi menjadi tidak lengkap dan berpotensi menimbulkan masalah dalam audit.
Keperluan Perpajakan
Kuitansi sering kali kita gunakan sebagai dokumen pendukung dalam pelaporan pajak. Oleh karena itu, kejelasan dan ketepatan penulisan istilahnya juga menjadi penting.
Struktur Umum dalam Sebuah Kuitansi
Agar pembahasan semakin lengkap, kita juga perlu memahami struktur dasar dari sebuah kuitansi. Umumnya, kuitansi memuat beberapa unsur berikut:
- Judul atau keterangan “Kuitansi”
- Nomor kuitansi
- Nama pihak penerima uang
- Jumlah uang (angka dan huruf)
- Tujuan pembayaran
- Tempat dan tanggal
- Tanda tangan dan nama terang penerima
Penulisan istilah kuitansi pada bagian judul sebaiknya mengikuti ejaan baku agar dokumen terlihat lebih profesional.
Kesalahan Umum dalam Penulisan Kwitansi atau Kuitansi
Menganggap Keduanya Sama-sama Baku
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah anggapan bahwa kwitansi dan kuitansi sama-sama benar. Padahal, hanya kuitansi yang tercatat secara resmi.
Tidak Memperhatikan Konteks Penggunaan
Dalam konteks informal, penggunaan kwitansi mungkin masih bisa kita maklumi. Namun, dalam konteks formal, akademik, dan administratif, penggunaan kata tidak baku sebaiknya kita hindari.
Contoh Penggunaan dalam Kalimat
Berikut beberapa contoh penggunaan kata kuitansi yang benar dalam kalimat:
- Kita diminta melampirkan kuitansi sebagai bukti pembayaran.
- Kuitansi tersebut telah ditandatangani oleh pihak penerima.
- Semua transaksi harus disertai dengan kuitansi resmi.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia adalah “kuitansi”. Sementara itu, kwitansi merupakan bentuk tidak baku yang masih sering kita temukan karena kebiasaan lama.
Dengan memahami perbedaan ini, kita harus lebih cermat dalam menggunakan bahasa Indonesia, terutama dalam penulisan dokumen resmi dan profesional. Penggunaan istilah baku bukan hanya soal aturan bahasa, tetapi juga mencerminkan ketelitian, kredibilitas, dan profesionalisme kita.
Oleh karena itu, mulai sekarang, mari kita biasakan menggunakan kata kuitansi dalam setiap penulisan yang bersifat formal maupun edukatif.