Penulisan yang Benar Ilmiah atau Ilmiyah

Dalam dunia akademik, pendidikan, dan penulisan formal, ketepatan penggunaan bahasa menjadi aspek yang tidak dapat ditawar. Salah satu bentuk ketidaktepatan yang sering kita jumpai adalah perbedaan penulisan kata yang sekilas tampak benar, tetapi sebenarnya hanya satu yang sesuai dengan kaidah bahasa baku. Contoh yang cukup sering menimbulkan kebingungan adalah penulisan ilmiah atau ilmiyah.

Banyak orang menggunakan kedua bentuk tersebut secara bergantian, bahkan dalam karya tulis resmi seperti skripsi, jurnal, laporan penelitian, hingga artikel pendidikan. Padahal, menurut kaidah bahasa Indonesia yang berlaku, hanya satu bentuk yang benar secara kebahasaan. Melalui artikel ini, kita akan membahas secara mendalam penulisan yang tepat antara ilmiah atau ilmiyah, lengkap dengan dasar linguistik, rujukan kebakuan, serta implikasinya dalam dunia akademik.

Asal Usul Kata Ilmiah

Untuk memahami perbedaan antara ilmiah dan ilmiyah, kita perlu menelusuri asal-usul katanya. Kata ilmiah berasal dari kata dasar ilmu, yang dalam bahasa Arab berasal dari kata ‘ilm. Dalam bahasa Indonesia, kata ilmu kemudian mengalami proses afiksasi atau pembentukan kata turunan.

Kata ilmiah terbentuk dari:

  • Ilmu (kata dasar)
  • + akhiran -iah yang menandakan sifat

Sehingga secara makna, kata ilmiah berarti “bersifat ilmu” atau “berkaitan dengan ilmu pengetahuan”. Dalam konteks bahasa Indonesia, kata ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang disusun berdasarkan kaidah keilmuan, metode yang sistematis, serta dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Penulisan Ilmiah Menurut KBBI

Jika kita merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata yang tercantum secara resmi dan baku adalah ilmiah, bukan ilmiyah. Dalam KBBI, ilmiah memiliki definisi:

Ilmiah: bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan.

Sementara itu, kata ilmiyah tidak tercantum sebagai entri baku dalam KBBI. Hal ini menjadi dasar utama bahwa ilmiah adalah bentuk yang benar dan harus kita gunakan dalam konteks penulisan formal.

Mengapa Bentuk “Ilmiyah” Masih Sering Digunakan?

Meskipun tidak baku, kata ilmiyah masih sering kita jumpai dalam berbagai tulisan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi.

Pengaruh Bahasa Arab

Dalam bahasa Arab, kata yang merujuk pada sifat keilmuan memang ditulis dengan bentuk ‘ilmiyyah. Banyak penulis kemudian mengadopsi bentuk ini secara langsung ke dalam bahasa Indonesia tanpa menyesuaikannya dengan kaidah kebahasaan Indonesia.

Kebiasaan dan Tradisi Penulisan

Di beberapa lingkungan akademik atau keagamaan, penggunaan istilah ilmiyah telah menjadi kebiasaan turun-temurun. Akibatnya, bentuk ini sudah lazim, meskipun secara kaidah tidak baku.

Kurangnya Pemahaman Bahasa Baku

Masih banyak penulis yang belum membedakan antara kata serapan yang telah sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia dan kata asing yang belum tercatat secara resmi. Hal ini menyebabkan kekeliruan berulang dalam penulisan.

Perbedaan Ilmiah dan Ilmiyah dalam Konteks Bahasa

Perbedaan utama antara ilmiah dan ilmiyah terletak pada status kebakuannya. Secara ringkas, perbedaan tersebut dapat kita jelaskan sebagai berikut:

  • Ilmiah: Bentuk baku, sesuai KBBI, digunakan dalam penulisan resmi dan akademik.
  • Ilmiyah: Bentuk tidak baku, tidak tercantum dalam KBBI, sebaiknya dihindari dalam tulisan formal.

Dalam konteks akademik, penggunaan kata yang tidak baku dapat mengurangi kredibilitas tulisan dan menunjukkan kurangnya ketelitian penulis.

Pentingnya Menggunakan Kata Baku dalam Karya Ilmiah

Penggunaan kata baku bukan sekadar persoalan teknis bahasa, melainkan juga mencerminkan sikap ilmiah penulis. Karya ilmiah menuntut ketepatan, konsistensi, dan kepatuhan terhadap standar yang telah ada.

Menjaga Kredibilitas Akademik

Kita perlu menyadari bahwa karya ilmiah merupakan bentuk komunikasi intelektual. Kesalahan dalam penggunaan kata dapat menimbulkan kesan kurang profesional dan menurunkan kepercayaan pembaca.

Memudahkan Pemahaman Pembaca

Bahasa baku bersifat standar dan dipahami secara luas. Dengan menggunakan kata ilmiah yang benar, kita membantu pembaca memahami isi tulisan tanpa kebingungan istilah.

Mematuhi Standar Institusi

Banyak institusi pendidikan dan jurnal ilmiah mensyaratkan penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan KBBI dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Contoh Penggunaan Kata Ilmiah yang Benar

Berikut beberapa contoh penggunaan kata ilmiah yang tepat dalam kalimat:

  • Penelitian ini tersusun berdasarkan metode ilmiah yang sistematis.
  • Karya ilmiah harus dapat kita pertanggungjawabkan secara akademik.
  • Pendekatan ilmiah berguna untuk menganalisis data penelitian.

Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa kata ilmiah berguna untuk menggambarkan proses, metode, atau hasil yang berbasis ilmu pengetahuan.

Dampak Kesalahan Penulisan dalam Dunia Akademik

Kesalahan penulisan seperti penggunaan kata ilmiyah dalam dokumen resmi dapat berdampak lebih besar dari yang kita bayangkan. Dalam konteks tertentu, kesalahan bahasa bisa memengaruhi penilaian terhadap kualitas karya.

Dalam penilaian skripsi, tesis, atau disertasi, ketidaktepatan bahasa sering dianggap sebagai indikasi kurangnya penguasaan akademik. Oleh karena itu, ketelitian dalam memilih kata baku menjadi sangat penting.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku menurut kaidah bahasa Indonesia adalah ilmiah, bukan ilmiyah. Kata ilmiah telah diakui secara resmi dalam KBBI dan digunakan secara luas dalam konteks akademik serta penulisan formal.

Sementara itu, bentuk ilmiyah merupakan pengaruh langsung dari bahasa Arab dan tidak termasuk dalam kategori kata baku bahasa Indonesia. Oleh karena itu, dalam karya tulis ilmiah, artikel akademik, maupun dokumen resmi, kita sebaiknya selalu menggunakan kata ilmiah agar tulisan kita lebih kredibel, profesional, dan sesuai standar kebahasaan.

Dengan memahami perbedaan ini, kita tidak hanya meningkatkan kualitas tulisan, tetapi juga turut menjaga ketertiban dan kejelasan penggunaan bahasa Indonesia di ranah ilmiah.