Dalam praktik berbahasa Indonesia sehari-hari, kita sering menjumpai kebingungan dalam penulisan kata tertentu. Salah satu pasangan kata yang kerap menimbulkan pertanyaan adalah “ekstrem” atau “ekstrim”. Kedua bentuk ini sama-sama sering digunakan, baik dalam percakapan lisan, tulisan populer, media massa, hingga konten digital. Namun, pertanyaannya: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia?
Artikel ini akan membahas secara mendalam penulisan kata ekstrem dan ekstrim secara profesional dan edukatif. Kita akan mengulasnya dari sudut pandang kebakuan bahasa, asal-usul kata, kesalahan yang sering terjadi, hingga dampaknya dalam dunia pendidikan dan penulisan formal. Dengan pembahasan yang lengkap, diharapkan kita dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan lebih tepat dan bertanggung jawab.
Pengertian Kata Ekstrem dalam Bahasa Indonesia
Secara makna, kata ekstrem berguna untuk menggambarkan sesuatu yang berada pada tingkat paling tinggi, paling keras, paling jauh, atau paling berlebihan dari ukuran normal. Kata ini sering kita pakai dalam berbagai konteks, seperti cuaca ekstrem, sikap ekstrem, olahraga ekstrem, hingga kondisi ekstrem.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ekstrem memiliki arti “paling ujung; paling keras; paling tinggi; keterlaluan”. Makna ini menunjukkan bahwa kata tersebut berfungsi sebagai kata sifat yang menjelaskan keadaan atau kondisi yang melampaui batas kewajaran.
Asal-Usul Kata Ekstrem
Untuk memahami penulisan yang benar, kita perlu menelusuri asal-usul katanya. Kata ekstrem diserap dari bahasa asing, tepatnya dari bahasa Latin extremus, yang berarti “paling ujung” atau “paling akhir”. Dalam perkembangannya, kata ini masuk ke bahasa Inggris menjadi extreme, lalu diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan penyesuaian ejaan.
Proses penyerapan kata asing ke dalam bahasa Indonesia mengikuti kaidah tertentu, salah satunya adalah penyesuaian fonologis dan ortografis agar sesuai dengan sistem ejaan bahasa Indonesia. Dari sinilah bentuk ekstrem muncul dan resmi sebagai bentuk baku.
Ekstrem atau Ekstrim: Mana yang Baku?
Bentuk yang Benar Menurut KBBI
Berdasarkan rujukan resmi bahasa Indonesia, yaitu KBBI, bentuk kata yang baku dan benar adalah “ekstrem”. Sementara itu, bentuk “ekstrim” tidak tercantum sebagai lema baku dalam KBBI.
Artinya, dalam penulisan formal, akademik, jurnalistik, maupun dokumen resmi, kita harus selalu menggunakan kata ekstrem, bukan ekstrim.
Mengapa Bentuk “Ekstrim” Masih Sering Digunakan?
Meskipun tidak baku, kata ekstrim masih sering kita jumpai dalam berbagai tulisan. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, antara lain:
- Pengaruh pelafalan lisan yang terdengar seperti “ekstrim”.
- Kebiasaan lama yang sudah terlanjur digunakan secara luas.
- Kurangnya kesadaran terhadap rujukan bahasa baku.
- Penyerapan tidak langsung dari bahasa Inggris tanpa penyesuaian ejaan yang tepat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan tidak selalu sejalan dengan kebakuan bahasa.
Contoh Penggunaan yang Tepat
Agar lebih jelas, berikut beberapa contoh penggunaan kata ekstrem yang benar dalam kalimat:
- Cuaca ekstrem akhir-akhir ini berdampak pada aktivitas pertanian.
- Olahraga ekstrem memerlukan persiapan fisik dan mental yang matang.
- Sikap ekstrem dalam berpendapat dapat memicu konflik sosial.
- Perubahan suhu yang ekstrem menjadi tantangan serius bagi lingkungan.
Penggunaan bentuk “ekstrim” dalam konteks formal sebaiknya dihindari karena dianggap tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Dampak Kesalahan Penulisan dalam Bahasa
Dalam Dunia Pendidikan
Kesalahan penulisan kata baku, termasuk penggunaan “ekstrim”, dapat berdampak pada kualitas pembelajaran bahasa Indonesia. Peserta didik yang terbiasa melihat bentuk tidak baku berpotensi menganggapnya sebagai bentuk yang benar.
Oleh karena itu, guru, dosen, dan penulis materi ajar memiliki peran penting dalam mencontohkan penggunaan bahasa yang tepat dan sesuai kaidah.
Dalam Penulisan Profesional dan Digital
Di era digital, kualitas bahasa turut memengaruhi kredibilitas sebuah tulisan. Artikel, berita, atau konten web yang menggunakan bahasa baku cenderung lebih dipercaya oleh pembaca.
Bagi kita yang berkecimpung di dunia penulisan, jurnalistik, akademik, maupun SEO, penggunaan kata baku seperti ekstrem menjadi salah satu indikator profesionalisme dan ketelitian.
Kaitan dengan Kaidah Ejaan Bahasa Indonesia
Penulisan kata ekstrem juga berkaitan erat dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Dalam pedoman tersebut, dijelaskan bahwa penyerapan kata asing harus disesuaikan dengan sistem ejaan bahasa Indonesia.
Perubahan huruf “x” dan “tr” dalam bahasa asing menjadi “ks” dan “tr” yang lebih sesuai dengan pelafalan bahasa Indonesia menghasilkan bentuk ekstrem, bukan ekstrim.
Peran Kita dalam Menjaga Kebakuan Bahasa
Bahasa adalah identitas dan alat komunikasi bersama. Menjaga kebakuan bahasa bukan hanya tanggung jawab lembaga bahasa, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai pengguna bahasa Indonesia.
Dengan membiasakan diri menggunakan kata baku seperti ekstrem, kita turut berkontribusi dalam pelestarian dan pengembangan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Langkah sederhana seperti memeriksa KBBI sebelum menulis, memperbarui kebiasaan berbahasa, serta mengedukasi lingkungan sekitar dapat membawa dampak positif dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku menurut kaidah bahasa Indonesia adalah “ekstrem”, bukan “ekstrim”. Meskipun bentuk tidak baku masih sering kita gunakan, kita sebaiknya mengutamakan bentuk baku dalam penulisan formal dan profesional.
Dengan memahami asal-usul kata, rujukan KBBI, serta kaidah ejaan, kita dapat menggunakan bahasa Indonesia secara lebih tepat, cermat, dan bertanggung jawab. Pada akhirnya, kebiasaan kecil dalam memilih kata yang benar akan memperkuat kualitas komunikasi dan literasi bahasa kita.