Penulisan yang Benar Cedera atau Cidera

Dalam bahasa Indonesia, perbedaan satu huruf saja dapat menimbulkan perdebatan panjang. Salah satu contoh yang sering kita jumpai adalah penggunaan kata cedera dan cidera. Kedua bentuk ini terdengar mirip, sering digunakan secara bergantian, dan sama-sama dipahami oleh masyarakat. Namun, pertanyaannya adalah: manakah penulisan yang benar dan baku menurut kaidah bahasa Indonesia?

Melalui artikel ini, kita akan membahas secara mendalam perbedaan cedera dan cidera, mulai dari tinjauan kebahasaan, rujukan kamus, penyebab kekeliruan penulisan, hingga penerapannya dalam berbagai konteks seperti kesehatan, olahraga, dan penulisan ilmiah. Dengan pembahasan yang komprehensif, diharapkan kita tidak hanya tahu mana yang benar, tetapi juga memahami alasannya.

Pengertian Cedera dalam Bahasa Indonesia

Kata cedera dalam bahasa Indonesia merujuk pada kondisi rusaknya jaringan tubuh akibat benturan, kecelakaan, atau tekanan tertentu. Cedera dapat bersifat ringan, sedang, hingga berat, tergantung pada tingkat kerusakan yang terjadi.

Dalam praktik sehari-hari, istilah cedera sering digunakan dalam berbagai bidang, antara lain:

  • Dunia medis dan kesehatan
  • Olahraga dan aktivitas fisik
  • Kecelakaan kerja
  • Kejadian lalu lintas

Contoh penggunaan kata cedera dalam kalimat:

  • Atlet tersebut harus absen karena mengalami cedera lutut.
  • Korban kecelakaan mengalami cedera ringan di bagian kepala.
  • Pemanasan yang kurang dapat meningkatkan risiko cedera otot.

Pengertian Cidera dan Alasan Sering Digunakan

Sementara itu, bentuk cidera sering muncul dalam percakapan lisan, media daring, bahkan dalam beberapa tulisan resmi. Secara makna, kata ini biasanya dimaksudkan sama dengan cedera, yakni kondisi luka atau kerusakan pada tubuh.

Namun, penggunaan kata cidera lebih tepat dipahami sebagai bentuk tidak baku. Kekeliruan ini umumnya muncul karena:

  • Pengaruh pengucapan lisan yang terdengar seperti “cidera”
  • Kebiasaan menulis berdasarkan bunyi, bukan kaidah
  • Kurangnya rujukan pada kamus bahasa Indonesia
  • Penyebaran kesalahan secara masif di media sosial dan media daring

Meskipun secara makna dapat dipahami, penggunaan kata cidera dalam konteks resmi sebaiknya dihindari.

Mana Penulisan yang Baku: Cedera atau Cidera?

Jika kita merujuk pada kaidah bahasa Indonesia yang berlaku, penulisan yang benar dan baku adalah “cedera”. Bentuk ini tercatat resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai kata resmi.

Dengan demikian, kata cidera tidak termasuk dalam bentuk baku dan tidak dianjurkan untuk digunakan dalam:

  • Karya tulis ilmiah
  • Artikel jurnal dan akademik
  • Dokumen resmi
  • Berita dan laporan profesional

Penggunaan kata yang baku bukan sekadar soal formalitas, tetapi juga mencerminkan ketepatan berbahasa dan profesionalisme penulis.

Asal-Usul Kata Cedera

Menarik untuk kita ketahui bahwa kata cedera memiliki akar dari bahasa asing. Secara etimologis, cedera berkaitan dengan kata injury dalam bahasa Inggris atau injuria dalam bahasa Latin, yang merujuk pada kerusakan atau luka.

Dalam proses penyerapan ke bahasa Indonesia, kata ini mengalami penyesuaian ejaan sesuai dengan sistem fonologi dan ortografi bahasa Indonesia. Hasil penyesuaian tersebut melahirkan bentuk cedera sebagai ejaan baku.

Perubahan bunyi dalam proses serapan inilah yang sering menimbulkan variasi penulisan tidak baku seperti cidera.

Kesalahan Umum dalam Penggunaan Kata Cedera

Walaupun sudah jelas mana bentuk yang benar, kesalahan penggunaan kata cedera masih sering terjadi. Berikut beberapa bentuk kesalahan yang umum kita temui:

1. Menulis Berdasarkan Pelafalan

Banyak orang menulis cidera karena mengikuti cara pengucapan sehari-hari. Padahal, tidak semua bunyi lisan dapat langsung kita jadikan ejaan yang benar.

2. Pengaruh Lingkungan dan Media

Ketika media besar atau figur publik menggunakan bentuk yang salah, kesalahan tersebut cenderung dianggap benar dan ditiru oleh banyak orang.

3. Kurangnya Kebiasaan Mengecek KBBI

Padahal, KBBI sudah sangat mudah diakses, baik secara daring maupun luring, sebagai rujukan utama bahasa Indonesia.

Penggunaan Kata Cedera dalam Berbagai Konteks

Cedera dalam Dunia Medis

Dalam bidang kesehatan, istilah cedera berguna untuk menjelaskan kerusakan jaringan, baik akibat trauma fisik, infeksi, maupun gangguan mekanis. Ketepatan istilah sangat penting karena berkaitan dengan diagnosis dan penanganan pasien.

Cedera dalam Olahraga

Olahraga merupakan bidang yang sangat lekat dengan risiko cedera. Oleh karena itu, penggunaan istilah yang benar sering kita temui dalam laporan pertandingan, analisis medis atlet, hingga panduan latihan.

Cedera dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, kata cedera berguna untuk menjelaskan kondisi luka akibat aktivitas rutin, seperti terjatuh, terpeleset, atau kecelakaan kecil di rumah maupun tempat kerja.

Dampak Penggunaan Kata Tidak Baku

Mungkin ada anggapan bahwa penggunaan cidera tidak terlalu bermasalah karena tetap kita pahami. Namun, dalam jangka panjang, penggunaan kata tidak baku dapat menimbulkan beberapa dampak, antara lain:

  • Menurunnya kualitas bahasa tulis
  • Kebingungan bagi pembelajar bahasa Indonesia
  • Kurangnya konsistensi dalam dokumen resmi
  • Menurunnya kredibilitas penulis atau institusi

Oleh karena itu, membiasakan diri menggunakan kata baku seperti cedera merupakan langkah kecil namun penting dalam menjaga mutu bahasa Indonesia.

Tips Agar Tidak Salah Menulis Cedera

Agar kita tidak lagi keliru dalam penggunaan kata cedera, berikut beberapa tips sederhana yang bisa kita terapkan:

  • Biasakan mengecek KBBI sebelum menulis
  • Perhatikan konteks formal dan informal
  • Gunakan pedoman ejaan bahasa Indonesia
  • Perbanyak membaca tulisan berkualitas

Kebiasaan-kebiasaan kecil ini akan membantu meningkatkan ketepatan dan kualitas tulisan kita.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dan baku adalah “cedera”, bukan cidera. Kata cedera telah tercatat secara resmi dalam bahasa Indonesia dan digunakan secara luas dalam konteks medis, olahraga, serta penulisan formal.

Sementara itu, bentuk cidera merupakan variasi tidak baku yang muncul akibat pengaruh pengucapan dan kebiasaan menulis yang kurang sesuai dengan kaidah. Meskipun masih sering dijumpai, penggunaannya sebaiknya dihindari, terutama dalam tulisan profesional dan akademik.

Dengan memahami perbedaan ini, kita tidak hanya menjadi penulis yang lebih cermat, tetapi juga turut berkontribusi dalam menjaga ketertiban dan keindahan bahasa Indonesia.