Penulisan yang Benar Aset atau Asset

Dalam dunia penulisan bahasa Indonesia, kita kerap dihadapkan pada dua bentuk kata yang terlihat serupa, tetapi menimbulkan kebingungan dalam penggunaannya. Salah satu contoh yang sering muncul adalah penulisan aset atau asset. Kedua bentuk ini banyak ditemukan dalam dokumen resmi, artikel akademik, laporan keuangan, hingga konten digital. Namun, pertanyaannya adalah: manakah penulisan yang benar menurut kaidah bahasa Indonesia?

Artikel ini akan membahas secara mendalam perbedaan antara kata aset dan asset, mulai dari dasar kebahasaan, rujukan resmi, konteks penggunaan, hingga implikasinya dalam dunia profesional. Dengan pemahaman yang tepat, kita dapat menggunakan bahasa Indonesia secara lebih akurat, konsisten, dan kredibel.

Asal Usul Kata Aset dan Asset

Untuk memahami penulisan yang benar, kita perlu menelusuri asal-usul kata ini. Kata asset berasal dari bahasa Inggris, yang pada gilirannya diserap dari bahasa Prancis Kuno assez dan bahasa Latin ad satis, yang berarti “cukup” atau “memadai”. Dalam bahasa Inggris modern, asset digunakan untuk merujuk pada sesuatu yang bernilai dan memberikan manfaat di masa depan.

Ketika kata asing masuk ke dalam bahasa Indonesia, tidak semua bentuknya dipertahankan secara utuh. Bahasa Indonesia memiliki kaidah penyerapan kata asing agar sesuai dengan sistem ejaan, pelafalan, dan struktur bahasa yang berlaku. Dari proses inilah kata asset diserap dan disesuaikan menjadi aset.

Penulisan yang Baku Menurut KBBI

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bentuk kata yang baku dan diakui secara resmi adalah aset, bukan asset. Dalam KBBI, aset memiliki arti sebagai:

“segala sesuatu yang bernilai dan dimiliki oleh seseorang, lembaga, atau perusahaan yang dapat memberikan manfaat ekonomi di masa depan.”

Sementara itu, bentuk asset tidak tercantum sebagai entri utama dalam KBBI. Hal ini menegaskan bahwa dalam konteks bahasa Indonesia baku, penulisan yang benar adalah aset.

Mengapa Asset Masih Sering Digunakan?

Meskipun tidak baku, kata asset masih sering kita gunakan dalam praktik sehari-hari. Ada beberapa alasan utama mengapa hal ini terjadi.

1. Pengaruh Bahasa Inggris

Bahasa Inggris memiliki pengaruh yang sangat kuat, terutama dalam bidang bisnis, keuangan, teknologi, dan pendidikan. Banyak istilah profesional yang berasal langsung dari bahasa Inggris tanpa penyesuaian, sehingga kata asset terasa lebih familiar bagi sebagian orang.

2. Kebiasaan di Dunia Profesional

Dalam laporan keuangan, presentasi bisnis, atau perangkat lunak akuntansi, istilah asset sering muncul sebagai bagian dari terminologi internasional. Kebiasaan ini kemudian terbawa ke dalam penulisan bahasa Indonesia.

3. Kurangnya Kesadaran terhadap Kaidah Bahasa

Tidak semua penulis atau pengguna bahasa menyadari pentingnya penggunaan kata baku. Akibatnya, bentuk tidak baku seperti asset tetap sering kita temukan, bahkan dalam dokumen resmi.

Penggunaan Aset dalam Berbagai Konteks

Kata aset memiliki cakupan makna yang luas dan berguna dalam berbagai bidang. Berikut beberapa konteks penggunaan yang umum.

Aset dalam Dunia Keuangan dan Akuntansi

Dalam akuntansi, aset merujuk pada sumber daya ekonomi yang dimiliki oleh perusahaan dan diharapkan memberikan manfaat di masa depan. Aset dapat terbagi menjadi beberapa kategori, seperti:

  • Aset lancar, misalnya kas, piutang, dan persediaan
  • Aset tidak lancar, seperti tanah, bangunan, dan mesin
  • Aset tak berwujud, misalnya hak paten, merek dagang, dan goodwill

Dalam laporan keuangan berbahasa Indonesia, penggunaan istilah aset merupakan bentuk yang tepat dan sesuai standar.

Aset dalam Konteks Pemerintahan

Di lingkungan pemerintahan, istilah aset berguna untuk merujuk pada barang milik negara atau daerah. Contohnya adalah aset negara berupa gedung, jalan, jembatan, dan fasilitas publik lainnya. Regulasi dan dokumen resmi pemerintahan secara konsisten menggunakan istilah aset.

Aset dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering menggunakan kata aset untuk menggambarkan sesuatu yang bernilai, baik secara materi maupun nonmateri. Misalnya, keterampilan, pengalaman, dan reputasi menjadi aset berharga bagi seseorang.

Perbedaan Konteks Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris

Penting bagi kita untuk membedakan konteks penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jika kita menulis dalam bahasa Inggris, maka penulisan yang benar adalah asset. Namun, jika kita menulis dalam bahasa Indonesia, terlebih dalam konteks formal, akademik, atau resmi, maka penulisan yang benar adalah aset.

Mencampuradukkan kedua bentuk ini dapat menurunkan kualitas tulisan dan menunjukkan kurangnya ketelitian dalam berbahasa.

Dampak Penggunaan Kata Tidak Baku

Penggunaan kata tidak baku seperti asset dalam teks bahasa Indonesia dapat menimbulkan beberapa dampak negatif, antara lain:

  • Menurunkan kredibilitas penulis atau institusi
  • Menimbulkan ketidakkonsistenan dalam dokumen
  • Menyulitkan pembaca yang berpegang pada kaidah bahasa resmi

Oleh karena itu, penggunaan kata baku menjadi bagian penting dari komunikasi yang efektif dan profesional.

Tips Agar Konsisten Menggunakan Kata Aset

Agar kita terbiasa menggunakan kata yang benar, ada beberapa langkah sederhana yang dapat kita coba.

1. Rujuk KBBI Secara Berkala

Gunakan KBBI sebagai acuan utama ketika ragu terhadap suatu penulisan kata.

2. Biasakan Membaca Teks Baku

Membaca dokumen resmi, jurnal ilmiah, dan media berkualitas akan membantu kita terbiasa dengan penggunaan bahasa yang benar.

3. Lakukan Penyuntingan Bahasa

Sebelum mempublikasikan tulisan, lakukan penyuntingan untuk memastikan konsistensi dan kebakuan istilah.

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa penulisan yang benar dalam bahasa Indonesia adalah “aset”, bukan asset. Bentuk aset telah diserap secara resmi dan diakui oleh KBBI, serta digunakan secara luas dalam dokumen formal, akademik, dan pemerintahan.

Sementara itu, kata asset tetap sah dalam konteks bahasa Inggris. Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat menggunakan bahasa Indonesia secara lebih tepat, profesional, dan sesuai kaidah. Ketelitian dalam memilih kata bukan hanya soal aturan, tetapi juga cerminan kualitas dan tanggung jawab kita sebagai pengguna bahasa.